Pelatihan Pangan Lokal Berbasis Sagu Perkuat Kemandirian Pangan Papua
Sentani — Pelatihan Pangan Lokal Berbasis Sagu diselenggarakan pada 28 Juli–5 Agustus 2025 di Laboratorium Pendukung Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua, Kementerian Pertanian. Kegiatan ini diikuti oleh tim Yayasan Bengkel Kerja Papua (YBKP) yang dipimpin oleh Sekretaris Yayasan, Reinhart Ramandei, dengan narasumber Yuliana Rumsarwir, SP., M.Si, pakar olahan pangan lokal BRMP Papua.
Pelatihan ini bertujuan memperluas keterampilan tim pengajar YBKP yang selama ini aktif memberikan pelatihan komputer gratis di berbagai kampung di Pulau Papua. Pengetahuan tambahan tentang olahan pangan berbasis sagu kini menjadi modal penting untuk memberdayakan masyarakat kampung melalui diversifikasi pangan lokal yang bernilai ekonomi tinggi.
Selama pelatihan, peserta mempelajari cara mengolah sagu menjadi kwetiau, cilok, bronis, kerupuk, dan es krim. Inovasi ini merupakan hasil pengembangan BRMP Papua yang selama ini aktif mengolah bahan pangan lokal seperti sagu, ubi jalar, singkong, dan gembili menjadi produk inovatif yang berdaya saing.
Papua dikenal sebagai sentra sagu terbesar di dunia, dengan hutan sagu seluas sekitar 1,2 juta hektare, atau hampir 50% dari total hutan sagu dunia. Potensi besar ini menjadikan sagu sebagai bahan pangan strategis yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan lokal tetapi juga memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan nasional, bahkan ekspor.
Selama perjalanan ke kampung-kampung untuk memberikan pelatihan komputer gratis, para pengajar komputer YBKP selalu disuguhi papeda, sagu bakar, dan aneka olahan sederhana berbasis sagu. Pengalaman ini menjadi inspirasi agar sagu tidak hanya dikonsumsi secara tradisional, tetapi juga diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Usai pelatihan, YBKP langsung menerapkan ilmu yang diperoleh dengan melatih Ibu-Ibu Persekutuan Wanita Gereja GKI Ebenhaezer Yoka di Pinggiran Kota Jayapura. Para ibu kini memiliki keterampilan membuat olahan pangan seperti cilok, bronis, dan es krim sagu yang dapat dijadikan produk usaha untuk menambah pendapatan keluarga.
Ke depannya, Tim YBKP akan melanjutkan kegiatan ke Kabupaten Kepulauan Yapen, menggabungkan pelatihan komputer gratis dan pengolahan pangan lokal. Agenda serupa juga dijadwalkan di Manokwari, Papua Barat, serta Sorong Selatan, Papua Barat Daya, agar semakin banyak kampung di wilayah Papua yang mampu mengolah sagu menjadi produk bernilai ekonomi.
Kolaborasi ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan lokal, mendorong kemandirian ekonomi, dan mendukung program pemerintah Makan Bergizi Gratis. Dengan inovasi ini, sagu tidak hanya dipandang sebagai makanan pokok tradisional, tetapi juga sebagai pangan masa depan yang berdaya saing, berpotensi menggerakkan ekonomi lokal, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.