BRMP Papua Pantau Perkembangan Ayam KUB Janaka Menuju Produksi DOC Lokal
Sentani, 11 September 2026 — Pengembangan Ayam KUB Janaka di Papua mulai memasuki fase yang dinantikan. Memasuki usia sekitar 20 minggu, bibit sumber ayam KUB spesifik lokasi yang dikembangkan di sejumlah lokasi kini dipersiapkan untuk memasuki fase layer dan diharapkan mulai menghasilkan telur pada Oktober 2026.
Memasuki umur 20 minggu, ayam KUB Janaka berada pada fase dara akhir. Kondisi ayam pada umur ini perlu mendapatkan perhatian karena perkembangan tubuh dan organ reproduksi akan sangat menentukan kesiapan ayam untuk mulai menghasilkan telur. Pada umur 20 minggu, ayam mulai memasuki masa persiapan produksi, terjadi perubahan kebutuhan nutrisi, pertumbuhan organ reproduksi, serta peningkatan aktivitas fisiologis yang berkaitan dengan persiapan bertelur. Oleh karena itu, pengelolaan ayam harus dilakukan secara tepat melalui manajemen pakan, air minum, kandang, kesehatan, pencahayaan, serta pengamatan perkembangan tubuh ayam. Manajemen yang baik pada fase menjelang produksi diharapkan dapat menghasilkan ayam dengan kondisi tubuh yang optimal, sehat, seragam, dan mampu mencapai performa produksi telur yang baik.
Kondisi tersebut menjadi langkah penting dalam pengembangan sumber bibit ayam lokal di Papua. Tidak hanya menjaga pertumbuhan ayam hingga siap bertelur, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua juga terus mengawal manajemen pemeliharaan ayam KUB Janaka.
Ayam KUB Janaka sebelumnya telah didistribusikan pada 1 Mei 2026 kepada 4 kooperator di Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura, dan Kota Jayapura. Masing-masing kooperator di Kabupaten Keerom dan Kabupaten Jayapura menerima 100 DOC, sedangkan Kota Jayapura menerima 200 DOC. Dari pengembangan tersebut, ditargetkan dapat dihasilkan sebanyak 1.734 DOC secara keseluruhan.
Melalui monitoring dan evaluasi (monev), BRMP Papua melihat perkembangan ayam, pola pemeliharaan, pengaturan indukan, hingga kesiapan kooperator menghadapi fase produksi. Secara umum, kondisi ayam di lokasi pengembangan cukup baik dan sudah diarahkan untuk memasuki fase layer.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengelolaan indukan adalah pengaturan sex ratio jantan dan betina yaitu 1 : 5 - 7. Ayam dibagi ke dalam beberapa kandang atau bilik sehingga pengelolaan indukan dapat dilakukan dengan lebih terarah. Berbeda dengan lokasi lainnya, kooperator di Kota Jayapura menggunakan satu kandang berukuran besar sehingga ayam jantan dan betina dipelihara secara bersama dalam satu area.
Dari hasil pemantauan, tantangan yang masih perlu diperhatikan adalah ketersediaan pakan dan vaksin. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi ayam, terutama ketika memasuki masa produksi telur. Ketersediaan pakan dengan kualitas yang sesuai kebutuhan nutrisi juga diperlukan untuk menunjang produktivitas indukan.
Sementara itu, kondisi iklim menjadi perhatian khusus pada kooperator di Koya Timur Kota Jayapura dan kooperator di dusun Tuwi/Kampung Yowong, Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom. Manajemen Pengelolaan kandang dan pemeliharaan perlu menyesuaikan kondisi lingkungan setempat agar ayam tetap berada dalam kondisi optimal. Sedangkan untuk kooperator di Kampung Wulukubun, Skanto Kab. Keerom dan kooperator di kelurahan Hinekombe Sentani Kab. Jayapura sejauh ini berjalan aman dan tidak menghadapi kendala berarti.
Kedepan BRMP Papua menargetkan fase produksi telur mulai berlangsung pada Oktober 2026. Telur yang dihasilkan selanjutnya akan diarahkan sebagai telur tetas untuk menghasilkan produksi DOC. Kapasitas mesin tetas di masing-masing lokasi juga menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kemampuan produksi DOC ke depan.
Kepala BRMP Papua melalui tim pendamping menekankan bahwa keberhasilan pengembangan Ayam KUB Janaka tidak hanya ditentukan oleh jumlah ayam yang bertahan dan tumbuh hingga dewasa, tetapi juga kemampuan kooperator mengelola indukan dan menghasilkan bibit secara berkelanjutan.
Dengan memasuki fase layer (umur 20 minggu) pada Oktober, pengembangan Ayam KUB Janaka di Papua diharapkan mulai menunjukkan hasil nyata dari proses yang telah dilakukan sejak distribusi DOC pada Mei lalu. Ke depan, produksi DOC lokal diharapkan dapat memperkuat ketersediaan bibit ayam, membuka peluang usaha bagi peternak, dan mendukung penyediaan pangan masyarakat di
Papua.