BPT Kelapa Dalam Sarmi, Aset Strategis Perbenihan Papua
Sarmi, 3 Agustus 2026 - Direktur Wilayah Papua melakukan kunjungan ke Blok Penghasil Tinggi (BPT) Kelapa Dalam di Kabupaten Sarmi sebagai bagian dari upaya penguatan pengelolaan dan pemanfaatan sumber benih kelapa dalam unggul lokal di Papua. Berdasarkan data penetapan, terdapat dua BPT di Distrik Bonggo Barat, yaitu BPT di Desa Anus dengan luas 20 ha dan 250 Pohon Induk Terpilih (PIT), serta BPT di Desa Podena dengan luas 20 ha dan 300 PIT. Kedua BPT tersebut memiliki peran penting dalam penyediaan benih kelapa dalam unggul lokal untuk mendukung perluasan areal, rehabilitasi, dan peremajaan tanaman kelapa di Provinsi Papua.
Dalam kunjungan tersebut, Direktur Wilayah Papua menekankan pentingnya pemeliharaan dan penataan kembali Pohon Induk Terpilih (PIT) yang telah ditetapkan pada kedua BPT tersebut. PIT diharapkan tetap dirawat secara intensif dan diberikan tanda/identitas kembali secara jelas dan permanen, sehingga dapat dengan mudah dikenali pada saat pelaksanaan pengumpulan atau pengadaan benih. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kemurnian sumber benih serta mencegah terjadinya kekeliruan dalam pengambilan buah dari pohon yang bukan merupakan PIT. Pengelolaan BPT secara konsisten diharapkan dapat menjamin ketersediaan benih kelapa dalam unggul lokal yang bermutu, teratur, berkelanjutan, dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Kedua BPT di Kabupaten Sarmi tersebut merupakan bagian dari jaringan sumber benih kelapa dalam unggul lokal yang tersebar di beberapa kabupaten di Papua. Selain di Sarmi, terdapat pula BPT dan Pohon Induk Terpilih (PIT) Kelapa Dalam di Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Nabire, dan Kabupaten Mamberamo Raya. Keberadaan BPT tersebut menjadi aset penting dalam mendukung sistem perbenihan kelapa di Papua, karena menyediakan sumber benih yang telah ditetapkan dan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan, rehabilitasi, maupun peremajaan tanaman kelapa. Oleh karena itu, seluruh BPT perlu mendapatkan perhatian melalui pemeliharaan yang berkelanjutan, pendataan dan penandaan PIT yang jelas, serta pengawasan dalam proses pengumpulan benih, sehingga potensi sumber daya genetik kelapa unggul lokal Papua tetap terjaga dan mampu mendukung peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani.