BRMP Papua Kawal Progres Cetak Sawah 210 Hektare di Keerom, Fokus Modernisasi dan Percepatan Tanam
Keerom, 03 Maret 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua dan Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Kelas 1 Jayapura Beserta Dinas Pertanian Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Pangan Provinsi Papua terus mengawal progres Program Cetak Sawah seluas 210 hektare di Kabupaten Keerom. Monitoring lapangan dilakukan untuk memastikan lahan yang telah dicetak benar-benar berfungsi hingga tahap siap tanam, sejalan dengan penerapan modernisasi pertanian di Papua.
Dari hasil evaluasi, sebagian lahan telah melalui tahap pembukaan dan perataan, namun masih memerlukan penyempurnaan pada aspek pengairan dan mekanisasi agar dapat segera memasuki musim tanam.
Kepala BBRMP Papua Dr. Aser Rouw,SP.M.Si menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari luas lahan yang dibuka, tetapi dari luas lahan yang benar-benar ditanami.
“Modernisasi pertanian bukan hanya soal alat dan teknologi, tetapi memastikan sistemnya berjalan. Air harus tersedia, lahan harus siap, alsintan harus bergerak tepat waktu. Target kita jelas, cetak sawah di Keerom ini harus sampai tanam dan berproduksi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan klaster berbasis pompa dan embung sedang didorong sebagai solusi percepatan, khususnya di lokasi yang belum memiliki irigasi permanen.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Papua Luna Daimboa,SP,M.AP menyampaikan bahwa Keerom memiliki potensi pengembangan sawah yang besar, namun perlu dukungan teknis yang kuat, terutama dalam hal ketersediaan air.
“Progres sudah berjalan, tetapi kita harus percepat penyelesaian fisik dan pengairan. Dengan sinergi antara BBRMP, dinas kabupaten, dan penyuluh lapangan, kami optimistis sebagian klaster bisa segera tanam,” jelasnya.
Beliau juga menekankan pentingnya validasi CPCL serta distribusi alsintan yang tepat sasaran agar bantuan benar-benar dimanfaatkan oleh petani yang siap berproduksi.
Dari hasil tinjauan di lapangan ditemukan penyelesaian yang kurang maksimal pada proges Cetak Sawah diantaranya :
1. Sebagian lahan telah dilakukan land clearing, namun masih terdapat sisa kayu dan tunggul.
2. Perataan lahan belum sepenuhnya mencapai elevasi optimal untuk sawah irigasi.
3. Pematang sudah terbentuk namun perlu pemadatan.
4. Parit dan saluran air belum seluruhnya optimal.
5. Belum semua lahan mencapai tahap rotary dan siap tanam.
6. Dari total 210 ha, sebagian masih dalam tahap penyempurnaan fisik
7. Sumber air tersedia di beberapa titik namun belum permanen.
8. Sistem irigasi gravitasi belum memungkinkan.
9. Pengairan sementara menggunakan pompa portable.
10. Belum tersedia embung/long storage permanen.